KPKC Dalam Konteks Misi Kapusin Indonesia

1. Pendahuluan

Karena makalah ini disajikan di dalam sebuah pertemuan saudara-saudara Kapusin di Indonesia mengenai misi, maka judulnya “Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan (KPKC) di dalam konteks misi saudara-saudara Kapusin Indonesia.” Kendati demikian, isinya lebih umum; sedikit saja kaitan dengan misi. Uraian umum itu berlaku juga bagi kehidupan misi.

Tujuan dari makalah ini ialah membangkitkan (kembali) kesadaran bahwa KPKC adalah bagian utuh dari panggilan kita sebagai orang Kristen dan kapusin. Hal itu diterangkan terutama melalui Ajaran Sosial Gereja, dokumen Ordo serta tindakan yang diambil oleh pemimpin Ordo, dan juga sebuah uraian mengenai landasan rohani KPKC. Lalu ada beberapa buah pikiran untuk dipertimbangkan, termasuk di dalam bermisi ke luar Gereja-Propinsi asal.


2. KPKC ADALAH BAGIAN UTUH HIDUP DAN PEWARTAAN GEREJA

Paus Leo XIII menunjukkan sikap baru dari pihak Gereja terhadap dunia dengan terbitnya Rerum Novarum 1891. Ensiklik ini menyampaikan ajaran Gereja untuk menanggapi masalah masyarakat kapitalis, yakni ketidakadilan dan kemelaratan yang dialami oleh kelas proletariat, sekaligus menolak pikiran komunisme untuk memperbaiki nasib kaum buruh. Ensiklik-ensiklik sosial yang ditulis oleh para paus setelah Leo XIII, khususnya Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, melanjutkan ensiklik yang satu itu sebagai permulaan perkembangan dari apa yang disebut dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG).
Pada tahap-tahap awal perkembangan ini, perhatian utama diberi pada pokok-pokok yang berkenaan dengan masalah keadilan dan perdamaian. Kemudian Gereja memberi perhatian yang lebih besar kepada ekologi sehubungan dengan semakin mendesaknya masalah-masalah lingkungan hidup. Hal ini secara istimewa nyata pada masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, dan berlanjut dengan Paus Benediktus XVI (bdk. Pesan Paus Yohanes Paulus II untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 1 Januari 1990, Damai dengan Allah Pencipta, Damai dengan Seluruh Ciptaan). Dengan demikian ekologi atau keutuhan ciptaan dimasukkan di dalam perhatian pada bidang KPKC.
Amanat Sinode Para Uskup di Roma tahun 1971, Tentang Keadilan di Dunia, dengan jelas menegaskan perhatian Gereja terhadap KPKC. “Kegiatan demi keadilan dan partisipasi dalam perombakan dunia bagi kami nampak sepenuhnya sebagai dimensi hakiki pewartaan Injil, atau, dengan kata lain, perutusan Gereja demi penebusan umat manusia serta pembebasannya dari tiap situasi penindasan” (6). Kegiatan demi keadilan adalah dimensi hakiki dari hidup Gereja, bukan suatu tempelan. Itu berarti juga bahwa tanpa komitmen tsb, kita bukanlah pengikut Yesus Kristus sepenuhnya. Pada Sinode tahun 1987 para Uskup mengembangkan refleksi ini dan mengatakan bahwa untuk menjadi kudus pada zaman sekarang ini, seseorang harus mengabdikan diri untuk keadilan sosial. (Secara khusus bagi hidup bakti, keharusan peduli akan KPKC ditandaskan oleh Paus Yohanes Paulus II di dalam surat Anjuran apostoliknya tentang Vita Consacrata - Hidup Bakti no. 82).

3. KPKC ADALAH BAGIAN UTUH HIDUP DAN KARYA KAPUSIN

3.1. MENURUT BEBERAPA DOKUMEN ORDO

Konstitusi Kapusin cukup banyak berbicara mengenai KPKC. Ditegaskan bahwa nilai-nilai KPKC tsb. adalah bagian inti panggilan Fransiskan Kapusin: hidup dan karya. Kita adalah orang-orang yang dinamai “pembawa damai” (167). Dengan hidup, perkataan dan perbuatan kita melayani keperluan jasmani dan rohani manusia untuk menjadi ragi keadilan, kesatuan dan perdamaian (12), serta berani mengingatkan para pemimpin masyararkat akan tugasnya pada bidang itu (145). Hal serupa diingatkan di dalam bermisi, “Dengan melihat Kristus dalam segala ciptaan, marilah pergi menelusuri bumi, mewartakan damai dan per¬tobatan, dan sebagai saksi cinta kasih-Nya, mengundang semua orang memuji Allah” (46; lih. juga 60, 179). Kita mencintai serta menyembah Allah dalam segala ciptaan dengan hati yang jernih, badan yang murni dan pekerjaan yang suci (173; bdk 75).
Kapitel general ke-82 (25 Juni – 16 Juli 2000) memutuskan untuk membaharui dukungan dan dorongannya terhadap Komisi-komisi KPKC sebagai suatu prioritas berdasar pada warisan Fransiskan kita, pertama dan terutama pada tingkat internasional, tetapi juga pada tingkat konperensi dan propinsi, sehingga perhatian yang lebih besar dapat diberi kepada tantangan-tantangan baru zaman kita, seperti emigrasi, imigrasi, pengungsi, AIDS, narkoba, terorisme, dll. (Keputusan III “Animasi DPO VI” terutama no.4; lih. Atti del 82° Capitolo Generale OFMCap edizione ufficiale italiana, hal. 712).
Dewan Pleno Ordo (DPO) juga menggarisbawahi bahwa nilai-nilai keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan adalah bagian hakiki dari karisma Fransiskan Kapusin kita. Mengenai KPKC sebagai cara berada atau cara hidup bagi kita (juga menyinggung sebagai perbuatan di dalam karya) dikatakan: “Dengan mengikuti Yesus sesuai jejak Fransiskus, dari semula kita menyadari bahwa sebagai saudara kita harus secara kenabian mengungkapkan dengan hidup dan perbuatan-perbuatan kita nilai-nilai keadilan, perdamaian dan hormat terhadap ciptaan. Keserasian di antara ketiga kenyataan ini adalah rencana Allah pada hari penciptaan, yang kemudian dirusak oleh dosa. Sekarang sebagai saudara kita harus bekerjasama memperbaiki kembali keserasian asali itu dan mempersiapkan datangnya Kerajaan Allah di bumi, dengan semua saudara dan saudari di seluruh dunia. Inilah rencana di dalam Perjanjian yang dimulai di dalam Yesus” (DPO V, 63). “St. Fransiskus memberikan kepada kita karisma istimewa perdamaian, keadilan dan ciptaan. Cara pandang orang miskin adalah tempat yang istimewa darimana seorang putera St. Fransiskus melihat dan mewartakan nilai-nilai itu. Rekonsiliasi dan hormat terhadap ciptaan adalah alat yang diajukan oleh St. Fransiskus kepada kita untuk memperoleh perdamaian dan harmoni yang benar. Hal ini membentuk bagian utuh dari panggilan Fransiskan kita” (DPO V, 86).
Sedangkan mengenai KPKC sebagai bagian utuh karya kita (tidak pernah dapat dilepaskan dari cara hidup) diungkapkan bahwa memperjuangkan perdamaian termasuk sisi utama dari hidup kita seturut Injil (DPO IV, 31). “Bagian utuh dari tugas kita sebagai saudara dina ialah secara nyata memajukan pendamaian, dengan pelbagai inisiatif yang jitu dan mantap, tepat dan konkret serta mengajukan kebudayaan damai. Di bidang ini, kesediaan untuk merayakan sakramen pendamaian pastilah ungkapan kedinaan kita” (DPO VII, 44).


3.2. LANGKAH-LANGKAH YANG DIAMBIL OLEH PEMIMPIN ORDO

Pemimpin Ordo sangat yakin akan menyatunya nilai-nilai KPKC dengan karisma kita. Untuk menyemangati seluruh persaudaraan agar menghidupi dan mewartakannya, para minister general bersama dengan para penasehatnya membuat banyak, antara lain hal-hal berikut.

1. Surat Edaran dan Dewan Pleno Ordo (DPO)
Para minister general menulis surat edaran dan juga mengundang pelbagai DPO, terutama ketiga DPO terakhir (V, VI, VII).

2. Kantor dan Komisi Internasional
Para minister general dan penasehatnya mengangkat kelompok para saudara membantu mereka di dalam tugasnya untuk memberi penyemangatan. Semenjak periode 2000-2006 komisi internasional terdiri dari beberapa saudara dengan seorang definitor general pendamping; selain itu ada kantor internasional untuk KPKC yang berpusat di kuria general, diurus oleh seorang direktur dan seorang saudara lain sebagai penghubung di antara komisi ini dengan Franciscans International (dia bukan berkedudukan di kuria general).

3. Statuta KPKC
Supaya baik komisi maupun kantor internasional lancar dalam pelayanannya, pemimpin Ordo menghendaki agar ada statutanya. Statuta ada semenjak Januari 1990 dan yang terakhir adalah revisi Maret 2002. Statuta tsb. sedang direvisi oleh Komisi periode 2006-2012.

4. Komitmen terhadap Franciscans International
Perhatian Ordo bukan tinggal hanya pada bidang dokumen dan struktur, melainkan juga di bidang kepedulian konkrit melalui keterlibatannya untuk Franciscans International (FI).
FI berawal dari 1982 ketika dua orang Fransiskan, seorang Suster dari USA dan seorang Saudara dari Malta, melihat bahwa ada peluang bagi keluarga Fransiskan bersuara di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Tahun 1989 PBB secara resmi mengakui FI sebagai NGO. FI membuka kantornya di New York 1990. Pada 1995 FI sebagai NGO memperoleh “General Consultative Status”, dengannya FI berhak mengambil bagian baik secara lisan maupun tertulis di dalam kegiatan-kegiatan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB. Tahun 1997 FI bersama dengan Komisi Damai dan Keadilan Ordo Dominikan membuka kantornya di PBB di Genewa, dengan pusat perhatian pada bidang pengembangan dan perlindungan hak-hak azasi manusia.
Semua tarekat yang tergabung di dalam Konperensi Keluarga Fransiskan di Roma, yakni Minister general OFM, OFMConv, OFMCap, TOR, OFS dan Presiden Konperensi Inter-Fransiskan Ordo Ketiga Regular, otomatis menjadi anggota FI. Keuangan FI ditopang secara sukarela oleh anggota Keluarga Fransiskan tsb. Sampai dengan sekarang Ordo Kapusin memberikan sumbangan keuangan yang cukup berarti. Kapusin menyediakan sumbangan ketenagaan juga di Badan Pengurus Direksi baik sebagai presiden maupun sebagai anggota.
Ada juga beberapa Propinsi Kapusin yang memberikan sumbangan khusus kepada FI: a) Propinsi Swiss membayar ongkos sewa kantor di Genewa, (b) Propinsi New York-New England memberi sumbangan yang cukup berarti untuk sewa kantor di New York dan juga untuk penerbitan majalah FI “Pax et Bonum”, (c) Konperensi Kapusin Amerika Utara dan Pasifik (NAPCC) membiayai pembentukan “African Desk”.
Pada bidang pendidikan KPKC, ada Franciscans International Africa Program, yang dibuat oleh FI secara langsung bagi para Fransiskan di akar rumput. Program tsb. adalah kursus pembinaan tiga tahap bagi para anggota Fransiskan di lapangan. Para peserta dibekali dengan kemampuan pada bidang advokasi dan capacity building, strategi untuk perubahan sosial yang secara sangat mendalam diakarkan pada spiritualitas Fransiskan, standar hak-hak azasi manusia pada tingkat regional dan internasional dan juga perangkat-perangkat perkembangan sosial. Sudah tujuhbelas saudara mengikuti lokakarya di Afrika Timur, Madagaskar dan Kepulauan sekitarnya, Afrika Tengah dan Afrika Selatan. Para minister sangat mendukungnya. (www.franciscansinternational.org/issues/africadesk/index.php).
Pada 2 Maret 2008 kantor baru FI di Bangkok untuk wilayah Asia-Pasifik dibuka. Pokok perhatian utama cabang ini ialah membela hak-hak azasi manusia, memajukan perdamaian, dan melestarikan alam semesta. Kantor ini juga menyelenggarakan sebuah pelatihan 3-7 Maret 2008 bagi para pemimpin Fransiskan dari wilayah Asia-Pasifik. Kursus ini menolong peserta melihat hubungan di antara Kitab Suci, Ajaran Sosial Gereja (ASG), warisan Fransiskan dengan konsep-konsep mengenai hak-hak azasi manusia dewasa ini. Dengan demikian para pemimpin tsb. akan semakin dapat mendukung dan mendampingi para saudara atau saudarinya setarekat yang saat ini berkarya atas aneka cara dengan orang yang hidup di dalam kemiskinan, ketidakadilan dan terpinggirkan. Alamat e-mail: bangkok@fiop.org.
DPO VII mendukung kuat FI: “Semua bagian Ordo seharusnya bekerja-sama juga dengan Franciscans International yang merupakan organisasi utama kita di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Ordo hendaknya rajin menyalurkan informasi kegiatan Franciscans International di PBB kepada semua saudara” (50); “di setiap Konperensi kegiatan Franciscans International hendaknya diperkenalkan dan didukung” (55). Untuk infomasi selanjutnya bukalah www.franciscansinternational.org).

5. Dukungan terhadap Damietta Peace Initiative
Damietta Peace Initiative bukan didirikan oleh Ordo Kapusin melainkan oleh Saudara-saudara Kapusin di Visepropinsi Afrika Selatan. Namun demikian Ordo mendukung lembaga ini bersama dengan Konperensi Keluarga Fransiskan (KKF) (bdk. Surat sekretaris KKF, Sdr. Stefano Recchia OFM, 21 Desember 2005).
Damietta Peace Initiative adalah sebuah usaha damai Fransiskan di Africa. Misinya membangun - pada tingkat setempat dan nasional - teori dan praktek anti-kekerasan, rekonsiliasi dan kepedulian terhadap ciptaan. Untuk mewujudkan misi ini Damietta Peace Initiative akan menggerakkan keduabelas ribu anggota Keluarga Fransiskan di seluruh Afrika. Dibentuk tim, yang dikenal dengan Pan-African Conciliation Teams (PACT), di kalangan masyarakat setempat, yang anggotanya berasal dari latarbelakang agama dan suku berbeda. Para Kapusin, selain dari Visepropinsi Afrika Selatan, di Visepropinsi Republik Demokrasi Kongo dan Visepropinsi Kenya telah terlibat di dalam proyek ini. Di daerah-daerah dimana kelompok Damietta Peace Initiative cabang Kenya telah bergerak, perang saudara setelah pemilihan umum di Kenya akhir tahun 2007 tidak seburuk di tempat-tempat lainnya.
Kapitel general 2006 sekali lagi mendorong Ordo untuk memanfaatkan baik FI maupun Damietta Peace Inititiative ini. Rapat Definitorium general 7-26 Januari 2008 memutuskan menugaskan kantor KPKC mencari jalan memperkenalkan lembaga ini kepada seluruh Ordo.
(www.damiettapeace.org.za/)

6. Pertemuan-pertemuan internasional mengenai KPKC
Menindaklanjuti pengarahan definitorium general (hasil rapatnya 27 Oktober 2001) kantor bersama dengan komisi KPKC Ordo menyelenggarakan tiga pertemuan internasional: (1) Di Addis Ababa, Etiopia, 2-6 Pebruari 2004 dengan tema Persaudaraan Injili di Dunia yang ragam etnik. (2) Di Nagahuta – Pematangsiantar, Indonesia, 14-19 Pebruari 2005 dengan tema Membawa damai melalui Dialog antar Agama (Surat hasil pertemuan itu berjudul Mari ke Damietta). (3) Di Porto Alegre, Brasilia, 13-18 Maret 2006 tentang tema Persaudaraan Injili, Keadilan Ekonomis dan Pemberantasan Kemiskinan.

7. Kapitel general ke-82 (25 Juni – 16 Juli 2000)
Di atas telah diutarakan bahwa pada kapitel general 2000 diambil sebuah keputusan yang mengikat sehubungan dengan KPKC. (Kapitel general 2006 mengulangi dorongan mendayagunakan FI dan Damietta Peace Initiative).

4. BEBERAPA TANDA YANG MEMBERIKAN SEMANGAT

Selain dari hal-hal di atas, ada beberapa tanda lain yang memberikan semangat. Sekarang ini lebih dari 40 sirkumpskripsi mempunyai kantor KPKC. Banyak saudara di pelbagai wilayah Ordo terlibat aktip melalui aneka gerakan dan kegiatan, seperti pendidikan untuk perdamaian, advokasi dan mediasi demi keadilan dan perdamaian, pelayanan bagi orang miskin di sektor pertanian, di tengah-tengah para perantau, gelandangan, tanpa tanah, etika investasi. Para Saudara Kapusin di Turki menyelenggarakan pertemuan tahunan dengan tokoh-tokoh agama Islam, yang semakin mencairkan hubungan Kristen dengan Islam. Pada 3 Januari 2008 para pengurus Persatuan Keluarga Fransiskan Kenya mengeluarkan surat kepada seluruh Keluarga Fransiskan di negara itu, mengajak untuk mengutamakan damai Kristus di atas segala perbedaan di tengah perang antar kelompok politik yang sedang mereka alami.

Beberapa contoh dari kalangan saudara Kapusin di Indonesia:
1. Pada bidang pemberantasan kemiskinan melalui pengembangan semangat “ekonomi persaudaraan” misalnya: almarhum Sdr. Fidelis Sihotang di Siantar Sitanduk, confratres di Kalimantan Barat dengan CU yang kemajuannya diakui di kalangan Gereja seluruh Indonesia, kelompok simpan-pinjam masayarakat di Sinaksak yang ditangani oleh para saudara di biara Alverna Sinaksak.
2. Pada bidang lingkungan hidup misalnya: Sdr. Agatho (pertanian organik di Cisarua), Sdr. Simon Sinaga (pemilah-milahan sampah, menanam pohon, melawan praktek menstrom ikan dan pembunuhan ular, penanaman pohon), Sdr. Samuel Sidin (pelestarian hutan luas di Gunung Benua Kalimantan Barat dengan memeliharanya serta menanam pohon yang sesuai dengan alam setempat), partisipasi kapusin di dalam aneka tahap proyek pelestarian alam yang ditangani oleh MATRIDA SUMUT; komisi KPKC Kapusin Propinsi Sibolga, Medan (dengan badan hukum serta program kerjanya), dan Keuskupan Agung Pontianak yang diketuai oleh Sdr. Yeremias Melis OFMCap.
3. Pada bidang perhatian terhadap “kaum pinggiran” misalnya: Sdr. Rochus Raesens yang bertahun-tahun membaktikan waktu, tenaga, pikiran, hati, hidup rohaninya bagi penderita penyakit kusta. Dia juga membela hak-hak azasi mereka serta keluarganya di hadapan pemerintah.


5. BEBERAPA TANTANGAN

Harus diakui juga bahwa cukup banyak saudara yang kurang yakin dan kurang tertarik terhadap KPKC. Hasil studi Komisi KPKC Persatuan Internasional para Pemimpin General Tarekat-tarekat religius (Roma) menunjukkan beberapa penghalang yang dihadapi oleh anggota hidup bakti sekaitan dengan nilai-nilai KPKC. Apakah ini kena kita juga?

Rasa takut adalah perintang yang paling besar.
- Banyak anggota termasuk pemimpin tarekat takut terjun dalam KPKC jangan-jangan hal itu merupakan penyimpangan dari karisma. Akibatnya anggota tarekat berpusar pada urusan-urusan intern sendiri; kepentingan orang-orang miskin dibelakangkan.
- Memberikan tenaga untuk KPKC ditakutkan mengancam keterjaminan pelaksanaan karya-karya tradisional tarekat. Personalia pada pos KPKC belakangan ditentukan dan paling mudah dipindahkan. Akibatnya program KPKC terlantar tidak berkesinambungan.
- Banyak tarekat takut bekerjasama dengan tarekat atau kelompok lainnya, jangan-jangan tarekat akan dirugikan.
- Khawatir bahwa cara hidup atau status quo (baik pribadi maupun kelompok/ komunitas) akan dipertanyakan bahkan digugat; takut terusik dari wilayah rasa aman.

Penghalang lainnya berkenaan dengan personalia penggerak KPKC.
- Dia kurang professional baik dari segi pengetahuan maupun ketrampilan. Teman setarekat tidak percaya jadinya.
- Orangnya kurang menampakkan komitmennya terhadap nilai-nilai KPKC melalui cara hidupnya sendiri. Kotbah, omongannya jitu tetapi kurang dihidupinya.
- Banyak beranggapan bahwa yang terjun pada bidang KPKC harus ahli. Bagi merekalah urusan KPKC; yang lain kurang mendapat pembinaan persiapan yang memadai untuk itu.

Kemudian penghalang lain berkaitan dengan gambaran terhadap KPKC.
- Bidang KPKC itu sangat luas sehingga tidak tahu mau mulai dimana; rumit juga, membutuhkan keahlian, dan cocok bagi awam atau religius pilihan. Erat dengan itu sering sekali KPKC dilihat sebagai “ekstra pilihan”.
- Ada orang menaruh pengharapan yang berlebihan terhadap KPKC. Mereka sangat kesal bila tidak melihat suatu hasil yang cukup nyata; pesimis terhadap pertemuan-pertemuan, rapat-rapat bahkan terhadap komisi atau kelompok KPKC secara umum. Hal lebih jelek bisa muncul, yakni godaan untuk jatuh ke fatalisme dan kembali ikut ke arus umum.

Penghambat lainnya ialah “spiritualitas yang tidak menjelma”.
Hidup rohani bersifat individualistik, dipusatkan pada doa serta hidup batin yang hampir tidak disentuh oleh begitu banyaknya penderitaan, ketidakadilan yang ada di dunia kita dewasa ini, padahal keadaan menyedihkan tsb. sangat dekat dengan tempat kita tinggal, hidup, berkarya dan berdoa. KPKC itu sesuatu yang berada di luar sana, bukan urusan orang hidup bakti.


6. LANDASAN ROHANI KPKC

Untuk lebih mendalami lagi pentingnya KPKC, sambil menyadari tantangan real halangan-halangan di atas, marilah melihat secara lebih khusus landasan rohaninya (spiritualitas yang menjelma). [Uraian berikut ini diringkas dari John Fuellenbach, SVD, Throw Fire (Manila: Society of the Divine Word, 1998, hal. 193-218)]
Kotbah dan perbuatan Yesus berpusat sekitar Kerajaan Allah. Lukisan Kitab Suci yang paling baik menggambarkan KA itu diberikan oleh Paulus: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17). [Kata ‘kebenaran’ di dalam terjemahan Indonesia ini adalah kata untuk ‘keadilan’/ ‘justice’ misalnya di dalam The New American Bible]. Ungkapan ini punya kesejajaran dengan perkataan Yesus: “Janganlah kuatir akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula….Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah” (bdk. Mt 6:25-33 dan Lk 12:22-31). Yesus berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu… Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan” (Mt 11:29-30).
Kutipan Paulus ini mencakup karunia-karunia pribadi, batiniah, rohaniah seperti misalnya dibenarkan di hadapan Allah, damai di dalam pikiran dan hati karena pengampunan atas dosa-dosa. Namun lebih dari itu, damai berarti terutama, keamanan tatanan sosial, dilawankan dengan perang; keadilan berarti kebaikan dan kebenaran di dalam hubungan sosial; dan sukacita merupakan rahmat yang dibawa oleh damai dan keadilan (bdk. B. Viviano, The Kingdom of God in History, hal. 8). “Mencari Kerajaan Allah” dan “memikul kuk” berarti mengabdikan diri demi Kerajaan itu dengan menghidupi nilai-nilai keadilan, damai dan sukacita. Nilai-nilai ini bukan saja perasaan melainkan kenyataan yang harus diwujudkan di dunia ini. Ketiga hal inilah nilai-nilai dasar Kerajaan Allah.

Keadilam di dalam Perjanjian Lama
Terjemahan yang paling tepat untuk keadilan menurut Kitab Suci adalah HUBUNGAN-HUBUNGAN YANG BENAR atau lebih baik lagi HUBUNGAN-HUBUNGAN YANG MENGHIDUPKAN. Hubungan ini mencakup: dengan Allah, diri sendiri, tetangga baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian masyarakat, dan keseluruhan ciptaan.
Kata-kata Ibrani sedeq, mishpat, dan sedaqah bersama dengan hesed dan emeth berkenaan dengan hubungan sosial dan pembelaan terhadap orang lemah dan korban, pembebasan kaum tertindas. Semuanya ini sangat penting di dalam sikap dan tingkah laku orang Israel serta mencerminkan siapa Allah, yakni yang membela orang lemah dan membebaskan mereka dari para penindas. Allah Kitab Suci adalah Allah yang peduli dengan hubungan-hubungan sosial serta cara hubungan itu dilembagakan di Israel.
Walter Brueggemann melukiskan: “Keadilan adalah memeriksa hal-hal apa yang menjadi bagian seseorang dan memberikan itu kepadanya. Disini terkandung pembagian barang secara benar dan hak atas sumber-sumber yang dibutuhkan untuk hidup. Ada hal yang tidak dapat ditawar. Memang di dalam rekayasa yang tidak seimbang di dalam proses sejarah, ada orang yang merampas dan menguasai hal-hal yang menjadi milik orang lain. Kalau kita cukup lama menguasai milik orang lain, kita berpikir bahwa hal itu adalah benar milik kita, dan kita lupa bahwa itu sesungguhnya milik seseorang lain. Oleh karena itu pembebasan, penebusan, penyelamatan adalah pekerjaan untuk ‘memberikan kembali’. Menurut Kitab Suci kalau terjadi perampasan milik, akan timbul masalah, kekacauan dan kematian. Maka keadilan Allah semenjak awal mempunyai unsur dinamis dan transformatip. Keadilan menuntut perubahan, dan harus terjadi perubahan untuk mendapat hidup di dalam kelimpahan (To Act Justly, Love Tenderly, Walk Humbly, hal. 5).
Keadilan adalah pemberian; manusia tidak dapat memahaminya dari diri sendiri. Hanya Allah yang adil dan ukuran entah kita adil adalah sejauh mana kita terbuka kepada Allah dan mengenal Dia: “mengenal Allah berarti melakukan keadilan” (bdk. Yer 22:16). Hanya orang yang membuka diri terhadap Kerajaan Allah dan membiarkan dayanya yang “menghidupkan” itu meresapi dirinya dapat tahu dengan sesungguhnya arti dari hubungan-hubungan yang benar.

Keadilan dan ibadat di dalam Perjanjian Lama
Di dalam PL keadilan sering dikaitkan dengan ibadat. “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? firman Tuhan; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan… Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan….Aku benci melihatnya…belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda” (Yes 1:11-17). Keadilan terhadap sesama adalah tanggungjawab kemanusiaan yang paling utama dan terpenting, bahkan di atas kewajiban ibadat. Tidak ada doa, kesalehan, kurban yang akan berkenan pada Allah bila semua itu kita pakai untuk melarikan diri dari kewajiban utama untuk masuk di dalam hubungan yang menghidupkan dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia dan ciptaan.

Keadilan di dalam Perjanjian Baru
Di dalam PB paham mengenai keadilan dikaitkan dengan tema Kerajaan Allah dimana keadilan dimengerti sebagai hubungan yang menghidupkan. Yesus mengalami Allah sebagai Bapa yang murah hati dan maha cinta. “Hukum murah hati” dari Lk 6: 27-36 (“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”) menggantikan “hukum kekudusan” dari Im 19:2 (“Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus”) sebagai norma sikap dan tingkahlaku keagamaan (bdk. Lk 10:30-37: Dengan melewatkan si korban imam itu murni secara ritual dan dia melaksanakan perintah hukum. Akan tetapi Yesus menegaskan bahwa kemurahan hatilah yang berkenan pada Allah, bukan kekudusan yang tidak mengindahkan kemurahan hati manusiawi). Bagi Yesus kekudusan dan kemurnian yang tidak peduli kepada orang yang sedang membutuhkan melawan kewajiban utama yang dituntut oleh Allah dari setiap kita, yakni melakukan keadilan, yang berarti masuk ke dalam hubungan yang menghidupkan dengan sesama.
Yesus mengerti bahwa Dia diutus untuk memulihkan Perjanjian, memaklumkan Kerajaan. Dia menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah mencipta suatu persekutuan yang baru di mana semua orang menjadi saudara dan saudari, tidak ada lagi marjinalisasi, sebaliknya semua berkumpul di dalam satu keluarga besar yang terdiri dari orang-orang yang dicipta seturut gambaran dan rupa Allah. Kerajaan Allah terbuka bagi setiap orang, mengatasi semua batasan-batasan, menjangkau semua orang dengan mencipta hubungan-hubungan yang menghidupkan serta merangkul setiap orang dengan cinta dan kemurahan hati, orang benar maupun pendosa yang secara istimewa membutuhkan kasih pengampunan dari Allah. Jadi, keadilan adalah paham kunci bagi Yesus untuk mengerti seluruh hidup dan pelayanan-Nya.
Yang menjadi perutusan para murid adalah juga: pergi ke seluruh dunia dan mengumpulkan orang dari semua bangsa, suku dan budaya ke dalam keluarga besar Allah, membangun keadilan Allah di bumi (bdk. Mt 19:28; “Kedatangan Allah untuk menghakimi [Yunani krinein] bangsa-bangsa” berarti bahwa Dia akan membangun keadilan di tengah-tengah umat-Nya dan melalui mereka di antara semua bangsa; Dia akan memberikan kepada dunia keadilan dan perdamaian yang baru. Inilah perutusan dasar para murid/ Gereja). “Menjadi murid berarti meletakkan kaki di jejak kaki Yesus, dan di dalam kuasa Roh, melanjutkan perutusan untuk memaklumkan dan menunjukkan tanda-tanda datangnya Kerajaan Allah itu secara nyata sepanjang sejarah. Bersama-sama sebagai Gereja, persekutuan para murid dipanggil secara istimewa menjadi ‘alat’ Kerajaan Allah di dalam sejarah. Karena damai dan keadilan adalah merupakan tanda-tanda yang paling menonjol dari Kerajaan Allah yang hadir di dunia, maka adalah perutusan hakiki bagi Gereja membuat kenyataan-kenyataan ini lebih kelihatan pada masa kita yang begitu ditandai dengan penindasan, kekerasan, ketidakadilan dan ancaman menuju kehancuran total” (E. Johnson, Consider Jesus, hal. 77).


Keadilan dan keutuhan ciptaan
Pokok mengenai keadilan, yang dimengerti sebagai hubungan yang menghidupkan, juga mencakup hubungan kita dengan alam. Kita tidak dapat menjadi manusiawi dan benar manusiawi jika kita tidak mengembangkan hubungan kita dengan alam sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kerajaan itu, yang hadir sekarang disini, menuntut dari setiap kita yang menyatakan diri murid Yesus hubungan yang menghidupkan dengan alam.
Dari sudut pandang Kitab Suci, alam ciptaan adalah bagian dari tatanan moral yang tidak dapat diabaikan. Hubungan di antara manusia dengan lingkungan hidup itu simbiotik – saling mendukung, saling tergantung, hidup bersama dengan – bukan parasit terhadapnya. “Keselamatan berkenaan dengan penyembuhan dan, sama seperti kosmos sendiri dapat dirusak dan dicabik-cabik oleh ketidakadilan, demikian pula kosmos itu dapat disembuhkan oleh usaha manusia untuk membawa damai, yakni keseimbangan, kembali ke hubungan manusia dengan tanah, udara, api, air, dan satu sama lain” (Fox mengutipnya di dalam Earthspirit, hal. 49).

Damai
Damai adalah kenyataan yang menyusul dimana keadilan meraja. Tidak mungkin ada damai tanpa keadilan. Damai terkait dengan empat hubungan dasar kita: dengan Allah, diri kita sendiri, sesama dan alam. Damai adalah pemberian dari Allah, bukan sesuatu yang dapat kita hasilkan sendiri.

Damai di dalam Perjanjian Lama
Untuk memahami damai di dalam PL kita menggunakan kata “shalom” yang menunjuk kepada keutuhan, kesehatan dan kesejahteraan sempurna. Di dalam alam pikiran Yunani damai berarti tidak ada perang. Di dalam alam pikiran Ibrani lawan dari shalom bukan perang melainkan ketidakadilan (bdk. H. Hendrickx, Peace, Anyone?, hal. 10).
Paham mengenai shalom di dalam PL diungkapkan dengan sangat baik pada sebuah teks yang ditulis dua kali, di dalam Mika dan Yesaya. …mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut Tuhan semesta alam yang mengatakannya (Mi 4:3-4; lih. Yes 2:4).
Mika memberikan gambaran keadaan bila para bangsa tunduk kepada Kerajaan Allah, dengan dua perubahan mendasar: (1) tidak akan ada lagi perang atau latihan perang dan tidak ada lagi pabrik alat perang; (2) kembali ke cara hidup sederhana dan damai, yang tidak cemas akan penumpukan terus-menerus melainkan memupuk hubungan antar pribadi. Damai yang digambarkan disini menuntut perubahan prioritas dimana ketamakan dan eksploitasi berakhir dan digantikan oleh tatanan hidup sosial yang sama sekali baru. (N.B. dua hal besar yang menggoda manusia semenjak awal teristimewa pada zaman kita: mentalitas perang dan mentalitas konsumer).
Yes 65:20-23 memberikan suatu gambaran lain kalau manusia melaksanakan damai Kerajaan Allah. Allah merindukan bahwa tidak ada bayi yang akan mati, bahwa orang tua akan hidup layak, dan mereka yang bekerja akan menikmati hasil pekerjaannya. Teks ini bukan berbicara mengenai hal-hal yang paling menyenangkan hati Allah seperti misalnya orang yang secara sempurna berkembang dan bahagia, melainkan mengenai hal-hal sederhana di dalam hidup manusia kini dan disini. Dan untuk mencapai hal itu masing-masing orang dapat memberikan sumbangan di dalam antar hubungan mereka, sehingga Kerajaan Allah itu tinggal di tengah-tengah mereka. Inilah yang berkenan pada Allah.

Damai di dalam Perjanjian Baru
Bagi Yesus damai berarti keutuhan, mencakup unsur-unsur badani, sosial dan rohani. Waktu Yesus menyembuhkan seseorang Dia berkata, “Pergilah dalam damai” (Mk 5:34; Lk 8:48). Penyembuhan ini bukan hanya badaniah melainkan juga sosial; orangnya dipersatukan kembali ke dalam masyarakat (Lk 8:48; Lk 7:50).
Damai sebagai hubungan yang benar dengan Allah atau dengan Kristus dekat dengan pendamaian dan harmoni. Allah bertindak untuk memasukkan manusia kembali di dalam hubungan yang benar dengan diri-Nya (Rm 5:1; Kis 10: 10:36). Damai sebagai hubungan yang baik di antara manusia adalah perluasan logis dan alamiah dari pengertian tentang damai tsb. Hubungan yang benar dengan Allah harus membawa hubungan yang baik di antara sesama manusia. Hidup di dalam damai berarti, secara positip, hidup di dalam harmoni, dan secara negatip, menghindarkan tindakan yang mengakibatkan ketidak harmonisan atau perselisihan (Mk 9:50; 2Kor 13:11; Kol 3:15).
Damai yang diperoleh Yesus bagi kita melalui sengsara dan kematianNya, serta yang Dia tinggalkan dan berikan bagi kita (Yo 14:27) memasukkan kita ke dalam hubungan yang benar dengan Allah dan dengan sesama. Kita lalu mengalami damai dalam batin dan pikiran, ketenangan dan ketenteraman. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu” (Yo 14:27). “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yo 16:33). Yesus membawa ke dunia ini pendamaian dunia dengan Allah, damai eskatologis (Yo 20:19, 21, 26). Oleh karena itu, hal-hal yang berkenaan dengan Kerajaan berkenaan dengan damai.

Di dalam Roh Kudus
Karena Kerajaan di dunia ini adalah antisipasi dari Surga baru dan Dunia baru, maka hanya Roh Kudus yang dapat membawa Kerajaan itu. Sedangkan kita hanya dapat menerima pemberian Kerajaan itu sebagai “rasa pendahuluan” atau “pertanda” dari yang akan datang. Setiap orang yang membuka dirinya terhadap kehadiran Kerajaan itu sekarang ini akan menerima pemberian tsb. Ukuran apakah seseorang menerima Kerajaan itu di dalam dirinya, serta ukuran sejauh mana dia menerimanya, adalah sejauh mana orangnya memberikan diri untuk membawa dan membangun keadilan, damai dan sukacita.


7. MENGERTI KPKC DARI SEGI HIDUP ST. FRANSISKUS DARI ASISI

St. Fransiskus merenungkan kebesaran yang diperbuat oleh Allah di dalam ciptaan dan hal-hal yang dikerjakan-Nya melalui Putera-Nya Yesus Kristus. Dia mengagumi betapa dunia ditebus dan manusia diselamatkan (bdk AngTBul 23, 1-4). Di dalam renungan tsb. dia sendiri mengalami pengampunan, belaskasihan dan rahmat cuma-cuma dari Allah. Semuanya ini membawa damai di dalam hatinya (bdk 1Cel 26) dan melahirkan di dalam dirinya misi untuk mewartakan perdamaian.
Misi demi perdamaian itu dia lakukan melalui salam yang khusus. Kemana saja dia pergi dan dimana saja dia berbicara kepada orang di dalam kotbah (bdk Cermin Kesempurnaan 26, Legenda Perugia 67, 1Cel 23, 3Sahabat 26) Fransiskus dan Keluarga Fransiskan awal selalu menyampaikan salam “Semoga Tuhan memberi engkau damai” (Was 23). Bukan hanya melalui salam, melainkan Fransiskus juga mengambil inisiatip untuk bertindak dimana ada kebutuhan konkrit akan perdamaian. Hal itu dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa penting seperti misalnya rekonsiliasi di antara walikota dengan Uskup Asisi (bdk Legenda Perugia 84), perdamaian kota Arezzo dan kota-kota lainnya (bdk 2Cel 108; Fioretti 11), kunjungan St. Fransiskus kepada Sultan (bdk 1Cel 57) dan kisah Gubbio (bdk Fioretti 21).
Fransiskus tidak pernah melihat ciptaan lepas dari Pencipta. Ciptaan itu adalah pernyataan diri Allah, diserap oleh cinta Allah (SP 113). Maka ia membangun hubungan baru dengan segala ciptaan: *) tidak memperlakukannya sebagai obyek kenikmatan dan kuasa, melainkan menganggap, mencintainya sebagai saudara dan saudari serta menjadi pemelihara dan penjaga baginya (LM VIII,6), *) tidak mau memiliki, menguasai dan mempersengketakannya (AntTBul 7,13). Fransiskus mengudang segala makhluk (LM VIII,9) dan memadukan suara mereka untuk memuji Allah (LP 43; 2Cel 127; SP 100) (bdk. Sdr. Christoforus Marpaung di dalam PERSAUDARAAN [Majalah Ordo Kapusin Propinsi Medan No. 1/ I, Okt – Des 2003] hal. 18-25).
Fransiskus mengikuti Kristus yang miskin, yang “walaupun kaya, Ia telah menjadi miskin agar kita kaya” (2Kor 8:9). Dia “tidak menahan sesuatu pun yang ada padanya bagi dirinya sendiri” (bdk. SurOr 29). Di dalam pilihan kemiskinan material itu termasuk juga pilihan atas kedinaan, menjadi ‘orang kecil’, rendah hati, tidak merebut kuasa (bdk. Pth 2:3; 3; 4; 6:4), solider dengan orang yang membutuhkan dan tersisih. St. Fransiskus tidak mau merebut harta, milik. Dia mau bebas dari kelobaan, keserakahan. Sebaliknya, dia mendorong untuk berbagi barang material dengan sesama: “karena jika seorang ibu mengasuh dan mengasihi anaknya yang badani (bdk. 1 Tes 2:7), betapa lebih saksama lagi seorang saudara harus mengasihi dan mengasuh saudaranya yang rohani?” (AngBul 6:8).
Pilihan St. Fransiskus untuk hidup solider dan miskin injili (=mengikuti Yesus Kristus) mempunyai dampak rangkap tiga: a) meneguhkan dan melindungi identitas persaudaraannya sebagai ‘saudara-saudara dina’; b) memisahkan mereka dari ketidakadilan dan kesenjangan sosial yang menonjol pada masa itu; c) menampakkan kepada dunia suatu model hubungan manusiawi yang dapat dilihat bertentangan dengan model umum yang berlaku saat itu.


8. MENINGKATKAN KOMITMEN KITA KE DEPAN

Karena nilai-nilai KPKC harus hadir di dalam setiap bagian eksistensi kita (hubungan dengan Allah, relasi-relasi persaudaraan, pewartaan, pembinaan, dan semua lainnya), maka kita perlu bertanya “Apa yang harus kita perbuat berhubungan dengan hal-hal yang mendesak yang kita hadapi, seperti hak-hak azasi manusia (untuk hidup yang layak dan bermartabat, kebebasan dari situasi yang menindas, untuk memperoleh pendapatan yang cukup untuk menopang hidup keluarga, dll), pemanasan bumi, naiknya permukaan air, perang memperebutkan sumber-sumber alam seperti minyak dan air, dan sampah yang kita sendiri hasilkan?”
Di dalam peningkatan komitmen kita ke depan, di bawah ini ada beberapa buah pikiran untuk dipertimbangkan menuju praksis (aksi dan refleksi) selanjutnya.

1. KPKC sebagai cara atau gaya hidup
DPO V memang menyebutkan bahwa salah satu jalan untuk mendorong dan membuat para saudara sanggup berkecimpung di dalam KPKC ialah pendidikan para ahli (98). Akan tetapi bukan itu jalan satu-satunya. Tanpa menyangkal pentingnya keahlian professional sampai derajat tertentu, komitmen terhadap KPKC adalah merupakan suatu cara atau gaya hidup, bagaimana kita secara pribadi maupun bersama menghidupi nilai-nilai KPKC itu.

2. Pribadi
Bagaimanapun pribadi-pribadi adalah pihak yang paling pokok di dalam mengamalkan nilai-nilai KPKC. Masing-masing harus yakin akan nilai-nilai tsb. Dia harus tegas mendukung ketentuan komunitas, sambil kreatip memilih caranya untuk terlibat. Di dalam hal damai hendaknya kita “murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya” (AngBul III). Di dalam hal pelestarian alam: mengurus sampah di komunitas, berpikir dulu sebelum mencetak sebuah tulisan, memilih naik kendaraan umum atau sepeda? Di bidang keadilan: setelah mengerti permasalahan turut menandatangani surat yang diajukan misalnya kepada G8, gencatan senjata (di Gaza), penyiksaan terhadap imam Budha di Birma, diskriminasi agama di Orisa-India? Dengan begini kita “berpikir global, bertindak lokal dan global”.

3. Komunitas
Pertama-tama di dalam komunitaslah nilai-nilai keadilan, perdamaian dan hormat terhadap ciptaan kita hidupi di antara kita sendiri, terhadap orang yang bekerja bagi kita, lingkungan hidup kita yang konkrit. Setiap komunitas perlu mempunyai program KPKC-nya sendiri. Dengan demikian terhindar pemahaman yang salah bahwa KPKC hanya urusan orang-orang tertentu dan komisi KPKC propinsi saja. Di setiap komunitas perlu ada seorang animator, yang sekaligus menjadi penghubung juga dengan komisi KPKC propinsi.

4. Bergerak maju dari karya amal ke pendekatan hak azasi manusia
Kita perlu bergerak maju dari keterlibatan pada tingkat karya amal (kesejahteraan sosial) ke bidang yang lebih dalam yakni pemberantasan kemiskinan (keadilan sosial) melalui advokasi hukum dan politik, perkembangan dan pembangunan perdamaian, animasi dan pemberdayaan (bdk. DPO V, 81 dan VI, 25). Perlu kita lihat struktur dan sistem-sistem yang terkait dengan penindasan dan marjinalisasi yang diderita oleh para pengungsi, tahanan, suku asli, pekerja migran, orang yang diperjual-belikan, penganggur, pekerja di bawah umur, kaum perempuan, orang cacad mental, bumi kita sendiri. Karya amal, keadilan sosial, bahkan belaskasihan (Allah) hendaknya sekaligus menjadi perhatian dan usaha kita. Kiranya spiritualitas Fransiskus, yakni menghormati setiap ciptaan dan manusia, perlu diterapkan pada situasi kita kini dengan pendekatan hak-hak azasi manusia, yang didasari atas martabat setiap pribadi manusia.

5. Hidup dekat dengan orang-orang kecil dan analisis sosial
Sering kedengaran bahwa kita terlalu banyak berbicara dan kurang berbuat. Barangkali hal ini terjadi karena kita tidak melihat secara benar situasi yang kita hadapi, kita tidak menganalisanya secara cukup mendalam, karena kita masih kurang terjun di dalam kenyataan sekitar kita. Dunia sekeliling kita tidak akan dapat dimengerti dengan pandangan sekilas. Kita perlu mengadakan: (1) pengamatan yang mendalam akan situasi itu, termasuk reaksi-reaksi kita terhadap apa yang kita lihat dan daftar kebutuhan konkrit orang-orang yang terkait disitu; (2) suatu analisa situasi sambil bertanya mengenai masalah-masalah yang mendasari keadaan tsb, mengapa hal ini merupakan sesuatu yang tidak adil dan tidak dapat diterima, siapa yang diuntungkan, dan hal-hal apa yang perlu ditempuh untuk menangani masalah tsb; (3) perumusan model-model alternatip yang adil dan memungkinkan, apa diharapkan Yesus kita perbuat; (4) penetapan jurus-jurus konkrit untuk menerapkan model-model tsb. menjadi kenyataan serta membulatkan tekad untuk benar melaksanakannya.

6. Aspek kontemplatip – doa
Melalui doa pribadi, doa komunitas serta perayaan-perayaan liturgi lainnya, kita semakin mengenal Yesus Kristus yang memperjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan sebagai nilai-nilai real Kerajaan Allah. Seperti dialami oleh St. Fransiskus, di dalam doa kita sadari bahwa sumber nilai-nilai itu adalah Allah sendiri, bukan diri kita. Roh-Nya adalah pembangun utama kesatuan, keadilan dan perdamaian di dunia. Kita menerima, mengalami keselamatan, serta merasa dipanggil untuk meneruskannya. Di dalam ekaristi kita merasa dikuatkan oleh roti yang dipecah-pecahkan untuk keselamatan dunia dan mengambil bagian melanjutkan penyelamatan itu. Untuk dapat menilai nilai komitmen dan pelayanan kita pada bidang KPKC perlu kita menanya diri “Apakah ‘peraturanku sendiri’ atau ‘peraturan Roh’ yang memberi hidup kepadaku?”
“Kegiatan damai, keadilan dan ekologi bagi para fransiskan harus terutama didorong oleh kerohanian; dorongan rohani inilah yang mendasari alasan-alasan politik, sosial atau kemanusiaan. Dengan landasan atas kerohanian tsb. setiap Fransiskan akan sanggup membangkitkan harapan pada diri orang lain, bahkan pada situasi yang sangat menekan sekalipun. Dasar kerohanian menolong mereka yang sangat aktip terlibat untuk tidak menjadi jenuh, atau kehabisan semangat atau tergoda untuk menyerah di masa-masa sulit. Secara teologis, konteks untuk semua kerohanian perdamaian adalah pertobatan pribadi dan memperjuangkan Kerajaan Allah di dunia.”

7. Kerjasama
Kita selalu didorong oleh Gereja dan Ordo untuk bekerjasama dengan mereka-mereka yang berkehendak baik dan yang berkeprihatinan serupa (bdk Konst. 99). Mari bekerja sama dengan kelompok yang telah duluan dan barangkali lebih maju dari kita, mis. yang diasuh oleh tarekat-tarekat religius lain ataupun keuskupan. Bila kapusinlah yang lebih maju di wilayah kita, mari mengajak pihak-pihak lain untuk bergerak. Beberapa tahun yang lalu KOPTARI dan MATRIDA giat menganimasi kaum religius dalam bidang KPKC. Tahun 2003 kapusin mengikuti semiloka KPKC di Jakarta yang diselenggarakan oleh OFM bagi keluarga fransiskan se-Indonesia. Tahun 2007 Kapusin propinsi Medan bekerjasama dengan Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura (direkturnya Sdr. Budi Hernawan OFM ke Medan; Sdr. Hilarius Kemit studi banding). Adakah kerja sama kita dengan KWI untuk meningkatkan kekuatan misi Gereja di Indonesia (bdk. Nota Pastoral semenjak beberapa tahun terakhir ini, tema APP 2008), juga dengan wilayah gerejawi Kalimantan dalam rangka surat gembala para Uskup mengenai pelestarian alam Kalimantan?
Mari mengajukan hal yang kita harapkan dari Komisi/ Kantor KPKC Ordo. Kita manfaatkan lembaga-lembaga yang sudah ada, seperti Damietta Peace Initiative dan FI, Franciscans International Asia Pacific (FIAP) di Bangkok. Pada 2008 FIAP masih berencana menyelenggarakan pelatihan mengenai: Hak-hak anak, hak-hak orang-orang yang diperdagangkan, manajemen ekosistem yang berpusat pada manusia, mengenal sistem hak-hak azasi manusia yang ada di PBB. Mari cepat mencari tahu mengenai program mereka untuk 2009. Manfaatkan kesempatan magang (intern) di ketiga kantor FI!
Bagaimana kerjasama di antara ketiga propinsi Kapusin di Indonesia pada bidang KPKC ini? (bdk. DPO VII, 55). Banyak energi, personalia, uang barangkali dihemat. Kita berbuat sesuatu yang mungkin di dalam bingkai keterbatasan-keterbatasan kita.

8. Kerjasama dengan Komisi Pendidikan dan Revisi Program Pembinaan
Bidang KPKC seharusnya menjadi bagian utuh seluruh pembinaan Kapusin kita, mulai dari pembinaan awal (bdk DPO VI 7, 8 dan Kapitel general 2000). Pendidikan itu dapat dijalankan melalui semua unsur pembinaan itu seperti pelajaran (pengetahuan akan seluk-beluk ketidakadilan, konflik-konflik, masalah-masalah ekologis), rohani (konperensi, bimbingan pribadi, khotbah), relasi (hubungan dengan para saudara dan orang lain yang bekerja bagi kita di rumah pendidikan) dan kerja harian (hormat terhadap alam ciptaan), karya kerasulan (hormat terhadap orang, adil di dalam pergaulan, mempromosikan pokok KPKC di dalam pengajaran), mengemban karya (mempraktekkan nilai-nilai KPKC kepada teman sekerja, orang-orang yang kita tolong, terhadap alam lingkungan), pengalaman terjun di lingkungan hidup atau pekerjaan dimana banyak orang sering mengalami ketidakadilan, kekerasan, dan ketidak pedulian terhadap alam lingkungan, dengan pembekalan membuat analisis kenyataan sosial yang dihadapi. Semakin cepat para saudara muda menjalani pembinaan di bidang KPKC ini, dapat diharapkan bahwa mereka semakin mantap di dalam pengamalan nilai-nilai KPKC itu di dalam perjalan hidup mereka selanjutnya.
DPO VI yang sama ini menegaskan bahwa nilai kemiskinan injili adalah sebuah alternatip untuk zaman kita. Maka pokok-pokok yang dikatakan barusan tadi, hendaknya menjadi bahan garapan utama juga pada pembinaan lanjut, serta terintegrasi di dalam karya kerasulan yang kita emban. Melalui tanda-tanda zaman dan perubahan-perubahan yang pesat pada masa kita kini, Roh Tuhan dengan kuat memanggil kita menuju suatu pembaharuan yang mendasar dalam visi dan hidup, sehingga hidup bakti yang kita jalani ini dapat mendampingi perubahan-perubahan yang sedang terjadi di sekitar kita. Bina lanjut seharusnya membantu kita menciptakan hidup bakti yang baru ini; tidak memadai ‘hanya untuk bisa bertahan hidup’.
Perlu kerjasama antar komisi di Propinsi: KPKC, Pendidikan (ada Evangelisasi/Kerasulan?).

9. Pentingnya KPKC Propinsi
Komisi KPKC propinsi perlu dibentuk, didukung dengan Anggaran Dasar yg jelas, personalia, keuangan yang memadai untuk karyanya, azas subsidiaritas dalam hubungan dengan propinsi (bdk. DPO V, 97).

Komisi ini bertugas a.l.:
- Membantu minister propinsial dan para penasehatnya di dalam melaksanakan tugas mereka menganimasi seluruh persaudaraan sepropinsi pada bidang ini.
- Membantu komunitas-komunitas dan pribadi-pribadi di seluruh persaudaraan sepropinsi untuk menghidupi nilai-nilai KPKC melalui aneka bentuk (seminar, tulisan, informasi bahan-bahan, kunjungan). Komunitas perlu dibekalinya dengan aneka hal seperti spiritualitas KPKC (Kitab Suci, Ajaran Sosial Gereja (ASG), fransiskan), hak azasi manusia, ketrampilan analisis sosial, ketrampilan menyusun program.
- Menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang peduli dengan KPKC baik pada level regional, nasional, maupun internasional, seperti misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), MATRIDA, Keuskupan, Gereja di Indonesia, Ordo, dll.
- Menangani langsung beberapa proyek KPKC sejauh mendukung tugas penganimasian saudara dan komunitas-komunitas.

10. Konperensi internasional mengenai KPKC
Ketiga surat hasil pertemuan internasioanl Ordo mengenai KPKC (di Addis Abeba, Nagahuta, Porto Alegre; “Persaudaraan Injili di Dunia yang ragam etnik”, “Mari ke Damietta”, “Persaudaraan Injili, Keadilan Ekonomis dan Pemberantasan Kemiskinan”) sangat bagus ditinjau dari segi isi, gaya penyajian serta relevansinya. Maka ketiga surat tsb. hendaknya digunakan di dalam refleksi pendalaman kita demi aksi. Beberapa propinsi dan beberapa saudara pribadi telah menggunakan surat ini sebagai sumber konperensi, makalah baik untuk kalangan persaudaraan Kapusin maupun untuk kalangan luar.


9. LEBIH KHUSUS BERKENAAN DENGAN MISI

Hendaknya terang bagi kita nilai injili yang hendak kita wartakan di “tempat baru”. Nilai-nilai KPKC termasuk di dalamnya? Catatan-catatan berikut bersumber pada dokumen fransiskan dan Ordo kita.

1. “Damai” mendapat tekanan penting sekali:
a- “Akupun menganjurkan, menasihatkan, dan mengajak saudara-saudaraku dalam Tuhan Yesus Kristus, agar sewaktu bepergian di dunia, janganlah mereka berselisih dan bertengkar mulut dan menghakimi orang lain; tetapi hendaklah mereka itu murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya” (AngBul III).
b- Mengingat St. Fransiskus yang mengutus teman-temannya ke seluruh dunia seturut teladan murid-murid Kristus, para saudara hendaknya mewartakan damai dimana-mana dengan kata dan dengan hidup (Konst. 179).

2. DPO VII merenungkan “Hidup Persaudaraan Kita dalam Kedinaan” sebagai musafir dan perantau di dunia ini.
a- kehadiran di daerah miskin
Nomor 49 berbicara mengenai “tempat baru”. Demi pengambilan bagian aktip dalam pembebasan orang miskin melalui tinggal di antara mereka sebagai teman seperjalanan, bagian-bagian Ordo perlu mempunyai sekurang-kurangnya satu tempat kehadiran di daerah miskin.
[Apakah “tempat baru” kita di daerah misi akan di daerah miskin?]
b- hubungan antar agama
Pertama kita dipangil menjadi saksi Kristus dengan hidup, dan kedua berdialog (lih. AngTBul XVI,5-7); tidak memancing-mancing orang berganti agama atau menganggap enteng dan memburukkan kepercayaan orang lain. (47; bdk. juga konperensi KPKC di Nagahuta mengenai membangun damai melalui dialog antar agama).
c- mengenai perdamaian:
“….Sebagai saudara-saudara Fransiskus, kita harus membangun jembatan dan menemukan jalan, mengatasi halangan kasta, kepercayaan, keagamaan dan batas-batas daerah, memegang benang pembawa cinta selama berjalan di tengah labirin antar-hubungan. Persaudaraan kita seharusnya menjadi titik pusat damai dan perdamaian bagi situasi yang dekat pada kita” (42).
[Sambil mengindahkan petunjuk pemimpin Gereja lokal, bagaimana para saudara yang memulai “tempat baru” merancang hidup dan karya mereka atas dasar anjuran tsb.?]
d- mengenai keadilan:
“….kita orang dina dan musafir berusaha menjalankan pengutusan kita sebagai nabi dengan menyatakan diri setia-kawan dengan orang miskin dan orang yang terpinggir. Kita menempatkan diri pada sisi mereka untuk mengubah dunia seturut semangat injili persaudaraan ….. harus lebih aktif melibatkan diri dalam pengembangan sosial dan rohani orang miskin dan orang yang terpinggir…..karena kemelaratan merendahkan kemanusiaan mereka sampai membahayakan juga perasaan susila mereka” (48).
[Di dalam proses persiapan, baik berkaitan dengan pembicaraan kepada pemimpin Gereja lokal yang baru, maupun berkaitan dengan pemilihan dan pembekalan personalia, bagaimana Propinsi/ kerjasama antar Propinsi menyikapi pokok tsb.?]
e- mengenai keutuhan ciptaan:
“Kita Kapusin juga ikut bertanggungjwab dalam pelbagai bentuk penghancuran planet kita (misalnya polusi dan penyedotan sumber alam), karena aktif ikut-serta dalam sistem perusak itu. Saudara-saudara diundang mengevaluasi secara pribadi dan bersama sikap dan tindakan kita terhadap lingkungan. Saudara-saudara diajak ikut-serta dalam aksi kelompok-kelompok yang berusaha melindungi ciptaan” (52).
[Sesuai dengan jenis kerasulan di tempat baru, bagaimana pula direncanakan bentuk, peralatan rumah? Apakah ada pikiran bekerja sama dengan kelompok lain juga?]

3. Model-model evangelisasi yang tidak terikat kepada kuasa dan keterjaminan.
PCO VI menganjurkan semangat penyerahan diri kepada Allah dengan kepercayaan yang total. Cara kita hadir dan hidup tanpa kuasa dan daya bukanlah suatu metode atau syarat untuk evangelisasi, melainkan sudah merupakan pewartaan Injil di dalam dirinya sendiri. Kita harus mencari model-model evangelisasi yang kurang terikat kepada kuasa dan keterjaminan karena memiliki sumber pemasukan yang mahal-mahal (11).
[Kedinaan, sikap dasar untuk KPKC, ini masuk pertimbangan kita di dalam memilih tempat serta bentuk kehadiran dan kerasulan kita di daerah misi?]

4. Kemartiran
CPO V mengatakan bahwa bila perlu kita mengurbankan nyawa demi memperjuangkan keadilan, hidup dalam kelimpahannya, mengikuti teladan Yesus Kristus (82). Mgr. Dien (Vietnam) pada Konsili Vatikan II menyatakan: “Kita mempunyai banyak martir, tetapi apakah kita mempunyai martir-martir Keadilan?” Yohanes Paulus II berkata: “Hidup bakti terang-benderang menunjukkan, bahwa semakin orang hidup dalam Kristus, semakin baik pula ia dapat melayani Dia dalam sesama, bahkan sampai mencapai stasi-stasi misi yang terjauh pun dan menghadapi bahaya-bahaya yang terbesar” (VC, 76; bdk EN, 69).
[Bagaimana kita semua menyikapi ungkapan populer Uskup dari Vietnam ini, yang sangat sering dikutip orang….apalagi para saudara yang akan pergi ke Vietnam?]

10. PENUTUP

Sebagai penutup marilah menyimak kutipan DPO V berikut ini: “Banyak sekali hal yang perlu kita perbuat sehubungan dengan pertobatan yang telah kita bicarakan. Pertobatan tsb. adalah suatu pendidikan yang baru, mengena baik pada hati maupun pikiran kita. Fransiskus baru mengerti dengan terang panggilannya setelah bertahun-tahun tinggal di tengah-tengah orang pinggiran. Kita pun akan bisa mengerti maksud terdalam panggilan kita di tempat-tempat umum dan melalui kontak dengan orang pinggiran, mengalami sendiri ketidak adilan dan kekerasan yang mereka derita setiap hari. Yesus juga berkembang di dalam kebijaksanaan melalui kontak-Nya dengan kaum tersisih dan yang dihinakan pada masa-Nya” (94).


Related Posts by Categories



0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bergabung dalam membangun budaya JPIC melalui komentar/pendapat Anda

kunjungan:

#